Minggu, 18 Desember 2016

Sebelas desember 2016

Lilin lenyap dibawa tinggalah aku berteman dengan segelas air putih yang barusan ku rebus beberapa menit lalu. Lampu sedang padam untuk waktu yang tak pasti. biasanya aku takut sendiri, ternyata mencoba bergaul dengan kegelapan tak terlalu menyeramkan juga. baling-baling kincir di atas holand bakery yang berputar tanpa henti jadi pemandangan syahdu tadi waktu jam tujuh lewat lima belas. Langit yang cerah dengan bulan seperempat lingkaran serta hiruk-pikuk kota Tomohon membuat penungguanku yg tak berujung tampak menyedihkan.  Jadi ingat waktu tante berhandphone samsung champ bertanya jemputanku. Sebetulnya aku memang sedang menunggu, tapi entah siapa. jalanan yang tadinya penuh sesak berangsur lenggang. Tak terasa empat puluh lima menit berlalu menyisakan aku yang penuh ketidakpastian. akhirnya penantian tinggallah harapan. malam ini kelabu lagi.

Delapan belas desember 2016

detik-detik menyengsarakan berubah menjadi menit. Kini pun aku lupa, sudah menit ke berapa sengsara ini hinggap. mengasihi diri sendiri tidaklah cukup bagiku, apalagi mengasihi orang lain? Bagaimana mungkin?

Hari ini itu saja!
.
.
.
18:13 18/12/2016 *Tondangow


Sabtu, 10 Desember 2016

Sepuluh desember dua ribu enam belas

Sore cerah namun sedikit sunyi. Tak ada kata-kata apalagi senyum. Tak ada arti untuk hati yang mendung. Setiap sedih ini mencumbu, ingatan tentang mama selalu menari riang melawan kepenatan. Orang terdekatpun tak akan pernah benar-benar memahami rasaku tentang semua ini. Mungkinkah mama yang tak dapat lagi ku sentuh boleh? Pergi ke makamnya sambil merenung adalah tujuan konyol sore ini.

Hati yang gembira adalah obat, begitu kata Alkitab. Semangat yang patah mengeringkan tulang, ini juga kata Alkitab. Mungkin ya, karena aku bahkan tak bisa berpikir jernih. Sore makin larut dan mulai berawan. Kabut tebal mulai tampak di celah pepohonan gunung Tondangow dan kicau burung mulai ramai menyapa. Sore kemudian beringsut gaduh, dinginpun mulai menggigit. Kulitku jadi pucat dan bibir jadi sedikit biru. Tidak tahulah aku tentang apa yang sebenarnya kupikirkan. Stres, mungkin! Tidak ada yang benar-benar peduli. Tidak dia tidak juga mereka, tapi bunuh diri bukan pilihan walaupun tak ada yg benar-benar menghargai raga ini. Dan lalu ketika tiba waktunya aku meninggalkan kenangan pada akhirnyapun tak ada yang akan benar-benar tersisa.

*Tondangow 15:44

6 desember 2016

Entah harus bersyukur atau enggan, sebentar lagi akan tiga puluh jikalau nafas ini masih berhembus hingga dua tahun depan. Umur 28 baru saja genap tiga hari ketika aku menulis ini. Perasaan menjadi tua akrab sekali dengan pikiran padahal sesungguhnya aku belum benar-benar tua. Haha... tiga tahun belakangan  hati gundah selalu jadi pelarian pasti ketika angka lima dibulan desember berganti enam, takut usia perlahan-lahan mengambil kemudaan ini merupakan kagalauan abadi yang nyata sekali. Tidak tahu kapan mata ini akan terkatup dan tak bisa terbuka lagi, aku jadi banyak pikiran jikalau pemikiran tentang itu muncul. Memang semua punya takdir, mungkinkah aku akan menginjak angka 30 di sisa cerita hidupku? trus siapa pula yang akan membawakan eulogi untukku? Entahlah! 

seperempat abad lebih singgah di peradaban ini membuat macam-macam rasa rajin berkunjung. takut kematian tiba2 datang menjenguk padahal belum banyak perbuatan baik yang sempat dilakoni. Aku tak banyak menciptakan kesempatan untuk itu. Belum lagi tentang mereka yang nanti kutinggalkan jika saat itu datang. Sedih jika harus mengingat bahwa suatu saat nanti kita kelak berpisah. Ahhhhh kehidupan ini sungguh mendramatisir sekali. 

Mamaku tak mengucap selamat tinggal saat dia pergi, yang masih terasa hingga kini hanya genggaman tangan hangatnya waktu hidupnya tinggal menghitung hari. Tak ada kata selamat tinggal tapi pada akhirnya kami berpisah. Bagaimana rasanya ketika kehidupan ini diambil selalu merupakan sebuah tanya. Tak ada yg bisa menjawab, karena ketika kehidupan terambil semua yang menyertainya ikut pergi dan tak pernah benar-benar kembali. Walaupun begitu pada akhirnya aku memilih untuk bersyukur mengingat masih ada waktu untuk menciptakan kesempatan  berbuat baik.

*Tondangow 9desember2016 17:30