Sabtu, 10 Desember 2016

Sepuluh desember dua ribu enam belas

Sore cerah namun sedikit sunyi. Tak ada kata-kata apalagi senyum. Tak ada arti untuk hati yang mendung. Setiap sedih ini mencumbu, ingatan tentang mama selalu menari riang melawan kepenatan. Orang terdekatpun tak akan pernah benar-benar memahami rasaku tentang semua ini. Mungkinkah mama yang tak dapat lagi ku sentuh boleh? Pergi ke makamnya sambil merenung adalah tujuan konyol sore ini.

Hati yang gembira adalah obat, begitu kata Alkitab. Semangat yang patah mengeringkan tulang, ini juga kata Alkitab. Mungkin ya, karena aku bahkan tak bisa berpikir jernih. Sore makin larut dan mulai berawan. Kabut tebal mulai tampak di celah pepohonan gunung Tondangow dan kicau burung mulai ramai menyapa. Sore kemudian beringsut gaduh, dinginpun mulai menggigit. Kulitku jadi pucat dan bibir jadi sedikit biru. Tidak tahulah aku tentang apa yang sebenarnya kupikirkan. Stres, mungkin! Tidak ada yang benar-benar peduli. Tidak dia tidak juga mereka, tapi bunuh diri bukan pilihan walaupun tak ada yg benar-benar menghargai raga ini. Dan lalu ketika tiba waktunya aku meninggalkan kenangan pada akhirnyapun tak ada yang akan benar-benar tersisa.

*Tondangow 15:44

0 komentar:

Posting Komentar